TERAPI TERHENTI SETAHUN! BANTU AUFA YANG TERANCAM LUMPUH TOTAL!

TERAPI TERHENTI SETAHUN! BANTU AUFA YANG TERANCAM LUMPUH TOTAL!

Rp. 20.000
terkumpul dari Rp. 30.000.000
1 Donatur
24 hari lagi
Donasi Sekarang!

Penggalang Dana

Ayo Kita Peduli

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

02 January 2026

“Ibu ingin sekali Aufa sembuh… bisa jalan, bisa main sama Adeeva dan kakak-kakaknya, seperti anak-anak lain…” Ujar Bu Susan lirih sambil menahan air mata. Aufa lahir kembar dengan Adeeva, kini mereka berumur 8 Tahun. Namun sejak usia 6 bulan, Aufa divonis Cerebral Palsy, kelainan pada otak yang membuat tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Awalnya dokter mengatakan Aufa hanya mengalami kejang dingin, karena tubuhnya tak panas. Tapi seiring waktu, tubuh mungilnya tak lagi mampu bergerak, dan hingga kini Aufa belum bisa berbicara.

 

 

Meski begitu, setiap kali Adeeva pulang sekolah, ia selalu menghampiri kembarnya yang terbaring. “Aufa, kakak pulang…” sapanya lembut, sambil menggenggam tangan saudaranya yang kaku. Dan dari tatapan mata Aufa, tampak jelas ada bahagia di sana. Bahagia karena ia tak pernah benar-benar sendiri.

 

Selama ini, Aufa dirawat penuh kasih oleh ibunya, Bu Susan (46 tahun). Setiap hari ia berjuang merawat dan memberi obat untuk putrinya. Satu-satunya harapan besar bagi kesembuhan Aufa adalah terapi rutin, namun untuk terapi sekali sesi saja membutuhkan biaya besar, orang tua Adeeva tidak memiliki cukup uang untuk melakukan terapi rutin. Sedangkan, menurut anjuran dokter, Aufa harus menjalani terapi minimal sekali seminggu, tapi sudah lebih dari setahun ia tak bisa terapi lagi. Karena yang di cover BPJS hanya periksa bulanan dan obat-obatan saja tidak termasuk Terapi.

 

 

“Sekarang kalau Aufa kejang, saya pijit-pijit sendiri, sebisanya aja…” tutur Bu Susan dengan suara bergetar, memandangi putrinya yang terkulai lemah. Dokter telah memperingatkan, bila terapi tak dilakukan secara rutin, kondisi Aufa bisa berakhir pada kelumpuhan total. Kini saja, untuk duduk, makan, atau sekadar menggenggam, ia harus dibantu sepenuhnya.

 

 

Kehidupan keluarga ini semakin berat sejak musibah menimpa mereka. Beberapa tahun lalu, Sandi, anak pertama Bu Susan, dibegal motornya di jalan layang. Tak lama berselang, motor milik Bapak Adi (48) sang ayah juga hilang saat berjualan tahu keliling. Kini, Bapak Adi bekerja sebagai buruh pabrik dengan upah minim, kadang menjadi kuli bangunan bila ada panggilan. Namun semua itu belum cukup untuk biaya pengobatan dan terapi Aufa.

 

Sahabat Kebaikan,Masih banyak keluarga seperti keluarga Aufa yang berjuang dalam keterbatasan, menahan perih antara harapan dan kenyataan. Mari bersama-sama kita bantu Aufa agar bisa mendapatkan terapi rutin, agar senyumnya tak hilang, agar ia bisa tumbuh dan bermain bersama saudara kembarnya, Adeeva. Yuk, sisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu kesembuhan Aufa. Kebaikan kecil darimu bisa menjadi harapan besar bagi keluarga ini.

 

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.

Doa & Donasi Teman Peduli

Agung Julianto

04 January 2026
Rp. 20.000
Amin
JADI#temanbaik