Di usianya yang ke-75 tahun, Abah Ukat menjalani hidup seorang diri. Ia tak pernah menikah dan tak memiliki anak, namun kesendirian itu tak pernah mematikan semangat hidupnya. Setiap hari, ia berjuang dengan pekerjaan apa saja yang bisa ia lakukan memelihara bebek, merawat kelinci, hingga pekerjaan serabutan yang kadang datang, kadang tidak. Penghasilannya tak menentu, kadang dalam sehari ia tak mendapat apa pun. Untuk makan pun sering kali hanya seadanya, atau berasal dari uluran tangan tetangga yang peduli.

Meski hidup dalam kekurangan, Abah Ukat memiliki hati yang tak pernah kekurangan cahaya. Setiap sore, selepas memeriksa kandang-kandang kecilnya, ia selalu meluangkan waktu untuk mengajar ngaji anak-anak di kampung. Suaranya lembut, penuh kesabaran, seolah ia menitipkan harapan-harapan baik dalam setiap ayat yang ia ajarkan. Tak hanya itu, ia juga dengan sukarela membersihkan mushola dan tempat pengajian, tanpa pernah meminta imbalan sedikit pun. Baginya, selama tubuhnya masih bisa bergerak, ia ingin hidupnya tetap bermanfaat.
Namun, di balik ketegaran itu, kondisi rumah Abah Ukat jauh dari kata layak. Lantainya masih berupa tanah, dingin dan lembap. Dapurnya menyatu dengan kandang bebek dan kelinci, sehingga bau ternak dan asap memasak sering bercampur jadi satu. Kamar mandinya pun tak lebih dari aliran air sederhana yang ditutup selembar kain tipis, sebuah jamban seadanya yang menjadi saksi kerasnya hidup yang ia jalani.

Meski begitu, Abah Ukat tak pernah mengeluh. Setiap hari ia bangun dengan senyum, seakan berkata pada dunia bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kelimpahan, tapi dari hati yang tetap bersyukur. Dan dalam kesederhanaannya, Abah Ukat menjadi pengingat bahwa hidup yang kecil pun dapat terasa besar ketika dijalani dengan ketulusan.
Mari bersama meringankan beban Abah Ukat dan membantu memperbaiki kondisi hidupnya.
Bantuan sekecil apa pun sangat berarti.
Yuk berdonasi, agar Abah Ukat dapat menjalani hari-harinya dengan lebih layak dan nyaman💛
