“Langkahnya pelan, tangannya gemetar,
tapi layangan-layangan itu tetap ia bawa… berharap laku hari ini.”

Di usia 70 tahun, Abah Turi masih berkeliling menjual layangan.
Bukan untuk hobi, bukan untuk bersenang-senang.
Tapi karena itu satu-satunya cara agar keluarganya bisa makan hari ini.
Abah Turi menghidupi 4 orang anak dalam kondisi serba terbatas.
Setiap ada sedikit tenaga, ia menganyam bambu, merangkai benang,
membuat layangan sederhana yang jadi sumber penghidupan mereka.

Ujian hidupnya tak berhenti di situ.
Anak keduanya adalah ODGJ, membutuhkan pendampingan khusus.
Anak keempatnya menderita sakit punggung parah, lukanya belum sembuh, bahkan tampak berlubang dan sering menahan nyeri.
Saat melihat anaknya kesakitan,
Abah Turi hanya bisa menelan lelahnya sendiri…
Lalu kembali melangkah, membawa layangan, membawa harapan.
Meski tubuhnya rapuh, Abah tak pernah mengeluh.
Ia terus bergerak, bukan karena masih kuat,
tapi karena ia seorang ayah, dan cinta membuatnya bertahan.
