Hallo teman teman!! Mainan Lato Lato & Per Per-an Abah Ajat udah bisa di order via tokpe lhooo!!
Order Sekarang yukk!! Mainan jadul yang bikin nostalgia! Yuk nostalgia dan rasakan lagi keseruan zaman dulu dengan Lato-Lato & Per-Peran Original Abah Ajat, Mainan sederhana yang bikin anak-anak aktif, ceria, dan jauh dari gadget! mainan yang sangat enteng dan praktis.
#Keunggulan:
- Terbuat dari bahan plastik atau kayu yang aman untuk anak-anak
- Ukuran ringan dan mudah digenggam
- Melatih koordinasi tangan dan mata
- Varian warna yang cantik dan lucu lucu
- Tidak mudah putus
#Kegunaan:
- Hiburan anak-anak di rumah atau sekolah
- Melatih kefokusan dan kesetabilan tangan pada anak
Begitupun mainan per per-an adalah mainan tradisional yang biasanya berupa bola atau benda kecil dengan pegas atau per yang bisa dipantulkan atau digerakkan dengan tekanan tangan. Mainan ini populer karena gerakannya yang dinamis dan memantul-mantul.
#Keunggulan:
- Terbuat dari bahan aman, lentur, tahan lama, dan tidak mudah putus
- Memberikan efek pantulan yang menyenangkan
- Melatih ketangkasan dan refleks pada anak
- Ukuran kecil dan mudah di bawa kemana saja
#Kegunaan:
- Aktivitas seru di rumah atau di luar ruangan
- Mainan yang sangat aktif untuk anak anak
Setiap orderan yang kamu pesan, menjadi harapan baru dan semangat baru bagi abah ajat, kapan lagi kita beli mainan sambil bantu abanya lhooo. " YUKK ORDERRR SEKARANG!!
DISCLAIMER:
Pesanan bersifat pre order dikarenakan keterbatasan SDM dan modal.
Abah Ajat, seorang lansia penjual mainan lato-lato dan per-per-an, sudah dua tahun hidup dan tidur di pelataran Masjid Raya Bandung. Setiap hari, Abah hanya beralaskan dan berselimutkan karung, karena ia tidak mampu menyewa tempat tinggal jika uangnya dipakai ngontrak, ia takut tidak punya modal untuk kembali berjualan.
Abah berjualan sejak tahun 2023. Pagi-pagi Abah sudah berangkat dari setelah subuh menuju Saparua, lalu sore hingga malam ia berjalan kaki ke Asia Afrika,Braga untuk melanjutkan berjualan. Kadang Abah berjalan jauh sambil membawa dagangannya karena tidak ada uang untuk naik angkutan. Ia berjualan dari jam setengah 7 pagi hingga setengah 12 malam, meski sering pulang tanpa menjual satu pun mainan.
Harga mainan yang dijual Abah sebenarnya Rp20.000-25.000, tapi karena iba dan sering tidak enak hati, Abah kerap menerima tawaran Rp10.000 atau Rp15.000. Bahkan ketika ia benar-benar tidak punya uang makan, ada yang membeli Rp1.000 pun tetap ia berikan. Abah hanya menanggung dirinya sendiri ia belum pernah menikah namun untuk makan sehari-hari saja ia kerap terpaksa meminjam uang dari kakak atau keponakannya. Hutangnya kini mencapai sekitar Rp277.000.

Dalam sebulan, ada 8 hari dagangan Abah tidak laku sama sekali. Pernah 2-3 hari berturut-turut Abah berjualan dari pagi sampai tengah malam tanpa satu pembeli pun. Saat itu Abah harus menahan lapar, merasa lemas bahkan pernah tertidur di ITC karena kelelahan setelah berjalan jauh sambil menggendong dagangannya.
Yang membuat keadaan makin berat, penglihatan Abah kini sudah sangat buram. Ia tidak tahu pasti penyebabnya kemungkinan rabun atau katarak namun ia pernah dipukul di bagian belakang kepala hingga ada darah beku yang memengaruhi penglihatannya. Karena matanya hampir tak jelas melihat, Abah sering menabrak pot, bahkan tersandung batu besar hingga terjatuh keras. Ia juga sudah 6 kali terserempet mobil saat berjualan. Meski begitu, Abah tetap memaksa dirinya berjalan dan berdagang demi sesuap nasi.
Abah pernah dipukul oleh orang yang iri, pernah kehilangan dompet dan uang hasil jualannya, bahkan pernah diusir dari masjid sehingga harus tidur di daerah sekitaran cibadak. Setiap kali mendapat bantuan kecil dari orang, Abah justru merasa sedih karena ia merasa hidupnya semakin terpuruk.
Meski terus menghadapi cobaan, Abah hanya memiliki satu harapan sederhana bisa punya tempat tinggal yang nyaman dan aman untuk beristirahat.