Hallo teman-teman! Goliath Abah Putra udah bisa di order via tokped lhooo!!!
Order Sekarang Yuuu!! Alat pencukur Goliath adalah pisau cukur klasik/manual yang dirancang untuk mencukur kumis, jenggot, dan bulu wajah dengan cepat dan sederhana. Produk ini sering dijual murah di pasaran lokal Indonesia sebagai alat cukur sekali pakai atau isi ulang yang ringan dan praktis.
# Keunggulan Produk
-Pisau cukur yang berkualitas
-Mata pisau anti karat
-Ringan dan mudah di bawa
# Kegunaan
-Merapihkan kumis
-Membersihkan area wajah
-Perawatan penampilan
DISCLAIMER:
Pesanan bersifat pre order dikarenakan keterbatasan SDM dan modal.
Di sudut Kota Bandung, tepatnya di kawasan Tegalega, hidup seorang lelaki sederhana bernama Abah Putra. Setiap hari, sejak pukul 07.00 pagi hingga sore, ia berkeliling dari Pasteur hingga Cimahi, menenteng dagangan kecilnya: pencukur kumis seharga Rp 5.000. Hasil jualannya pun tak menentu kadang Rp 30.000, kadang hanya Rp 60.000 dalam sehari namun itulah yang menjadi sumber nafkah untuk istri dan anaknya.

Abah Putra bukan orang baru dalam kerasnya hidup. Ia pernah bekerja di sebuah mebel di Jakarta, namun harus pulang kampung setelah terkena PHK. Dengan sisa-sisa keberanian dan modal hasil pinjam dari tetangga, ia mulai berjualan pencukur kumis secara keliling. Sudah dua tahun ia bertahan, meski penglihatannya kini terganggu akibat katarak di mata kirinya. Ia pernah menjalani operasi dan diberi kacamata, tetapi rasa tidak nyaman membuatnya lebih memilih berjalan tanpa alat bantu apa pun. Dalam kondisi penglihatan yang kabur, ia tetap melangkah karena kalau ia berhenti berjualan sehari saja, keluarganya tidak bisa makan.
Namun ujian Abah tidak berhenti sampai di situ.
Enam bulan terakhir, istrinya mengalami gangguan jiwa akibat tekanan berat ekonomi. Ia sudah empat kali dibawa ke RSJ Cisarua untungnya mereka memiliki BPJS sehingga biaya pengobatan tidak terlalu membebani. Tetapi perilaku istrinya masih sering berubah-ubah kadang mengamuk, kadang mencoba menyakiti dirinya sendiri. Abah sampai harus mengamankan semua benda tajam di rumah demi keselamatan istri dan anaknya.

Setiap kali istrinya kambuh, Abah-lah yang menerima pukulan dan tendangan. Namun ia tetap sabar. Dengan suara pelan ia berkata, âKalau bukan karena anak, mungkin saya sudah pergi jauh⦠Tapi saya harus kuat.â
Anak mereka kini hidup dalam ketakutan. Setiap jam 3 sore, ia selalu menelepon atau menghubungi Abah, takut ayahnya menghilang atau tidak pulang. Trauma dan kondisi rumah membuat sang anak berhenti sekolah formal karena sering dibully. Sekarang ia hanya mengikuti Paket A, masuk seminggu sekali setiap hari Sabtu.
Mereka bertiga tinggal menumpang di rumah mertua rumah kecil yang dihuni tiga keluarga sekaligus. Abah sebenarnya ingin mengontrak, agar istrinya bisa lebih tenang dan anaknya punya ruang layak untuk belajar. Tapi baginya, itu hanya mimpi. Penghasilannya bahkan sering tidak cukup untuk makan, apalagi untuk membayar kontrakan.
Abah pun masih memiliki utang Rp 300.000 kepada tetangga yang ia bagi dua untuk modal dan makan serta utang Rp 50.000 di warung dekat rumahnya. Meski hidup serba kekurangan, keluarganya tetap berusaha menyisihkan sebagian rezeki untuk berzakat setiap selesai Ramadan. Itulah bentuk syukur Abah yang tidak pernah hilang.
Kini, di usianya yang tidak lagi muda, dengan mata yang semakin kabur dan beban hidup yang semakin berat, Abah Putra memiliki satu harapan sederhana
Ia ingin memiliki modal usaha kecil agar bisa berjualan di satu tempat tanpa harus berkeliling jauh, agar ia tetap bisa menjaga istrinya, dan agar anaknya bisa tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman dan lebih layak.