Di usia 59 tahun, Mak Nonok menjalani hidup dengan keterbatasan fisik sejak lahir. Tubuhnya tak sempurna, namun semangat hidupnya tak pernah padam. Setiap pagi, dengan langkah terbatas, ia bangun lebih awal untuk menyiapkan kue kering yang akan ia jajakan keliling. Bukan karena kuat, melainkan karena hidup tak memberinya banyak pilihan.

Mak Nonok berjalan sejauh kurang lebih 3 kilometer setiap hari, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menghidupi dirinya dan sang kakak, Mak Aning, yang kini berusia 73 tahun. Penghasilannya tak menentu, sering kali hanya cukup untuk sekadar bertahan. Tatapan sinis dan ejekan atas kondisi fisiknya masih kerap ia terima, namun semua itu ia telan dalam diam.

Di tengah keterbatasan dan hidup yang serba pas-pasan, Mak Nonok justru menyimpan empati yang begitu besar. Saat mendengar kabar bencana di Aceh dan Sumatra, ia memilih menyisihkan sebagian kecil hasil jualannya untuk membantu korban bencana. Baginya, berbagi bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa tulus hati yang memberi.

Hari ini, Mak Nonok hanya memiliki satu harapan sederhana: memiliki motor roda tiga agar ia bisa beraktivitas dengan lebih aman, berbelanja bahan dagangan, dan berjualan tanpa mempertaruhkan keselamatan tubuhnya. Uluran tangan kita bisa menjadi jalan agar Mak Nonok tetap bertahan, bekerja dengan layak, dan menjalani hari tuanya dengan lebih manusiawi.