
Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan permainan, Siti Nazmi justru belajar tentang kehilangan. Ayah yang menjadi satu-satunya sandaran hidupnya telah pergi untuk selamanya empat tahun lalu. Sejak itu, Nazmi tumbuh tanpa pelukan orang tua, tinggal bersama bibi yang bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan.

Namun Nazmi tidak menyerah. Sepulang sekolah, saat anak-anak lain pulang bermain, Nazmi memilih menyusuri jalanan membawa keranjang gorengan. Panas dan hujan ia lalui demi mendapatkan Rp10.000–Rp20.000. Uang itu bukan untuk jajan, melainkan untuk membantu biaya hidup dan menjaga agar ia tetap bisa sekolah.

Di saat lelah dan rindu tak tertahankan, Nazmi sering datang ke makam ayahnya. Masih mengenakan seragam sekolah, ia bercerita pelan tentang harinya, tentang sekolahnya, tentang mimpinya menjadi seorang guru. Dari tangis di depan nisan itu, Nazmi kembali menguatkan hatinya untuk terus melangkah.

Insan Baik, masa depan Nazmi kini berada di persimpangan. Himpitan ekonomi bisa kapan saja memaksanya berhenti sekolah. Mari bersama menjaga mimpi kecil ini agar tidak padam. Uluran tanganmu hari ini bisa menjadi alasan Nazmi terus belajar, terus bertahan, dan suatu hari berkata dengan bangga: “Aku berhasil.”