Di usia yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, Mak Endah (86) justru masih berjalan kaki sejauh 3 kilometer, berkeliling menjajakan kicimpring buatannya sendiri. Setiap langkahnya ia tempuh dengan kaki yang sering sakit, demi dua cucu berkebutuhan khusus yang ia rawat seorang diri: Yuni dan Yusuf.
Yuni dan Yusuf terlahir dengan tunagrahita. Mereka sulit berkomunikasi, emosinya sering tak stabil, dan sejak kecil menjadi sasaran perundungan. Yuni pernah ditarik jilbabnya hingga robek, dikurung di kamar mandi seharian, dilempari batu sampai berdarah, bahkan sempat depresi berat dan ingin mengakhiri hidupnya. Namun ia memilih diam, karena takut neneknya yang renta ikut disakiti.
Ibu kandung mereka pergi sejak Yuni berusia 7 tahun dan Yusuf 4 tahun. Sejak itu, Mak Endah mengambil peran sebagai ibu, ayah, sekaligus pelindung. Dengan penghasilan tak lebih dari Rp40.000 per hari dari berjualan kicimpring, Mak Endah harus mencukupi makan, listrik, sekolah, dan ongkos anak-anak. Tak jarang Yuni dan Yusuf harus berjalan kaki hampir satu jam ke sekolah karena tak ada uang ongkos.
Meski hidup serba kekurangan, Mak Endah membesarkan cucunya dengan nilai agama. Ia mengajak mereka shalat, puasa Senin–Kamis, dan mengaji. Yuni dan Yusuf bahkan bermimpi bisa masuk pesantren, mimpi sederhana yang belum mampu diwujudkan karena keterbatasan biaya.
Yuni dan Yusuf bukan hanya berjuang melawan keterbatasan, tetapi juga luka batin akibat perundungan dan kehilangan kasih sayang seorang ibu. Mereka bertahan karena cinta seorang nenek yang tak pernah menyerah. Mari ulurkan tangan, agar Mak Endah tak lagi berjuang sendirian, dan Yuni serta Yusuf bisa tumbuh dengan lebih aman dan layak.