Di Usia 91 Tahun, Abah Mataji Masih Mengayuh Becak Demi Sepiring Nasi Di sudut daerah Ciaul, Sukabumi, seorang lansia berusia 91 tahun masih setia mengayuh becak tuanya setiap hari. Namanya Abah Mataji.
Sejak tahun 1977, Abah menggantungkan hidupnya sebagai tukang becak. Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk beristirahat bersama keluarga, Abah justru masih harus bekerja dari pukul 6 pagi hingga 3 sore. Bukan untuk mengejar keuntungan besar, melainkan sekadar agar bisa membeli beras untuk keluarganya.
Abah tidak pernah mematok tarif. Berapapun yang diberikan penumpang, itulah yang beliau terima. Baginya, selama cukup untuk makan hari itu, sudah lebih dari cukup. Bahkan ketika ada penumpang yang tidak membayar, Abah tidak pernah mempermasalahkannya. Ia yakin, rezeki sudah ada yang mengatur.
Di rumah kontrakan sederhana yang ia tinggali dengan biaya Rp1.000.000 per bulan, Abah hidup bersama 5 anak dan 7 cucunya. Total 11 orang bergantung pada penghasilan Abah. Dua cucunya masih sekolah dan menjadi tanggungannya, karena beberapa anaknya belum memiliki pekerjaan tetap. Dari penghasilan yang tidak menentu itu, Abah tetap berusaha menyisihkan untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan kontrakan.