Setiap hari, Abah Nana berdiri di dekat stopan Simpang 5. Di usianya yang sudah 67 tahun, ia masih berjualan air mineral dengan harga lima ribu rupiah per botol. Bukan karena ingin, tapi karena memang tidak ada pilihan lain.

Setiap hari Abah hanya mampu membawa 6 botol. Empat dipajang di pinggir jalan dengan spanduk sederhana, dua disimpan di tas sebagai cadangan. Dari enam botol itulah hidupnya bergantung. Penghasilannya tak menentu kadang hanya lima ribu, paling banyak dua puluh ribu. Bahkan sering kali hanya laku satu atau dua botol saja.

Sebenernya Abah tidak lagi kuat berjualan siang hari. Kondisi fisiknya sudah tak sekuat dulu. Ia pernah mengalami sakit hernia, karena terlalu sering mengangkat beban berat saat masih menjadi pengumpul botol bekas. Dulu, ia memanggul hingga 15–20 kilogram setiap hari sambil berkeliling menawarkan barang. Hingga suatu hari, tubuhnya tak lagi mampu menahan. Rasa sakit datang tiba-tiba, membuatnya harus menepi dan menahan perih sambil meluruskan kaki di pinggir jalan.

Kini Abah tinggal di sebuah kontrakan sederhana, Biaya kontrakan tiga ratus ribu rupiah per bulan, Dari lima ribu rupiah yang ia dapatkan, dua ribu biasanya dibelikan garam atau kerupuk untuk makan. Tiga ribu sisanya ditabung untuk kebutuhan esok hari, membayar kontrakan, atau membeli celana penahan hernia seharga empat puluh lima ribu yang harus diganti setiap dua hingga tiga bulan. Telur dan mie instan adalah “makanan mewah” baginya itu pun hanya jika dagangannya laku semua.
Abah memiliki dua anak yang kini tinggal di Karawang. Namun ia memilih tidak bercerita tentang kesulitannya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran anak-anaknya. Baginya, ini adalah tanggung jawabnya sendiri.

Di usianya yang semakin renta, Abah sebenarnya ingin sembuh dan memiliki usaha yang lebih ringan, yang tidak terlalu menguras tenaga. Ia bermimpi memiliki troli plastik agar tidak perlu lagi memanggul dagangannya. Namun untuk memenuhi kebutuhan makan saja masih sulit, apalagi membeli perlengkapan usaha.
Hari ini, hidup Abah Nana benar-benar bergantung pada enam botol air mineral yang ia bawa. Enam botol yang menentukan apakah ia bisa makan, membayar kontrakan, atau sekadar bertahan hingga esok hari.
Sobat Berdampak! Mari wujudkan Ramadan yang penuh dengan kebaikan melalui campaign dan program Semua Berhak Dirayakan. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.