Merantau Sendiri, Tidur di Masjid! Abah Didi Bertahan Demi Istri di Kampung

Merantau Sendiri, Tidur di Masjid! Abah Didi Bertahan Demi Istri di Kampung

Rp. 130.000
terkumpul dari Rp. 30.000.000
5 Donatur
5 hari lagi
Donasi Sekarang!

Penggalang Dana

Lentera Pijar Kebaikan

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

15 December 2025

Di sebuah kota yang tidak pernah benar-benar ia miliki, hiduplah seorang perantau bernama Abah Didi. Usianya sudah tidak muda lagi, rambutnya mulai memutih, dan langkahnya semakin pelan. Namun semangatnya bekerja tetap menyala seperti matahari pagi.

Abah Didi tinggal di sebuah masjid, bukan sebagai tamu, tapi sebagai penjaga kebersihan.

Setiap subuh, sebelum adzan berkumandang, ia sudah bangun. Tangannya menggenggam sapu, membersihkan halaman masjid, mengepel lantai yang dingin, merapikan sajadah dan sandal jemaah. Masjid itu menjadi tempat tinggalnya, tempat tidurnya, dan saksi bisu dari perjuangan hidupnya.

Setelah pekerjaannya selesai, Abah Didi keluar membawa sepeda tuanya.

Di keranjang kecil di depan, terdapat beberapa botol air mineral dagangan satu-satunya yang ia punya. Ia mulai berjualan dari jam 7 pagi hingga malam, berkeliling dari pasar ke pinggir jalan, dari terminal ke lampu merah.

Kadang dagangannya laku, kadang sama sekali tidak. Kadang ia membawa pulang 20 ribu, kadang 30 ribu, kadang bahkan lebih sedikit dari itu. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menyalahkan keadaan. Karena ia tahu, rezeki datangnya dari Tuhan.

Di kampung, Abah Didi memiliki seorang istri yang selalu menantikan kabarnya.

Setiap malam, suara sang istri terdengar di telepon dengan nada cemas:

“Abah sehat? Sudah makan? Jangan terlalu capek ya, Bah…”

Abah Didi selalu menjawab pelan, “Iya, Bu… Abah baik. Doakan saja ya.”

Ia rindu pulang. Setiap hari ia menandai kalender, menunggu hari liburnya tiba.

Namun ia hanya bisa pulang sebulan sekali. Itu pun dengan seribu pertimbangan. Karena sering kali, sebelum tanggal itu tiba, ia harus menunda kembali.

Bukan karena ia tidak ingin pulang.

Bukan karena hatinya tidak rindu.

Tapi karena ia merasa belum punya cukup uang untuk dibawa pulang. Ia takut mengecewakan istrinya. Ia takut pulang dengan tangan kosong.

Setiap malam, sebelum tidur di sudut mesjid, Abah Didi selalu berdoa agar diberi kekuatan untuk bertahan di rantau ini. Ia juga punya sebuah impian kecil, impian yang selalu ia simpan dalam hati:

Ia ingin memiliki modal untuk membeli alat-alat praktis untuk membuat kopi.

Bukan mesin mahal cukup alat sederhana: grinder kecil, pemanas air, dan peralatan manual brewing. Ia membayangkan suatu hari nanti bisa membuka usaha kopi kecil di pinggir jalan, tidak perlu lagi berkeliling kota dengan sepeda tua.

Ia membayangkan ada pelanggan yang duduk sambil berkata, “Kopi Abah enak, ya.”

Dan ia akan tersenyum bangga.

Suatu sore, setelah seharian panas dan sepi pembeli, Abah Didi duduk di tangga mesjid. Tangannya menggenggam uang pas-pasan hasil jerih payah hari itu. Pandangannya kosong, tapi hatinya tetap penuh syukur.

“Alhamdulillah… walau sedikit, masih bisa buat makan…” gumamnya.

Ia menatap langit senja yang berubah jingga. Hatinya bergetar pelan.

“Ya Allah… kalau boleh, mudahkan jalan Abah. Abah cuma ingin beli alat-alat kopi, supaya Abah bisa punya usaha sendiri… dan bisa pulang lebih sering kepada istri Abah.”

Doa itu mungkin sederhana, tapi keluar dari hati yang penuh keikhlasan.

Dan Tuhan selalu mendengar doa orang yang berjuang dalam diam.

Yuk bantu Abah Dede di masa tuanya:

  1. Klik “Donasi Sekarang;
  2. Masukan nominal donasinya;
  3. Pilih metode pembayaran;
  4. Dapatkan laporan via email.

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.

Doa & Donasi Teman Peduli

Nurlatipah

29 December 2025
Rp. 20.000
Amin
Sehat-sehat abah, semoga di mudahkan segala urusan dan rezekinya oleh Allah SWT 🤲
JADI#temanbaik

Merantau Hingga Tidur di Masjid, Bantu Lansia Penjual Air Mineral Menyambung Hidup!

Lentera Pijar Kebaikan
Telah mengajak 4 orang berdonasi
Rp. 160.000

TIDUR DI MASJID! Lansia Penjual Air Mineral Keliling Berjuang Demi Sesuap Nasi

Lentera Pijar Kebaikan
Telah mengajak 7 orang berdonasi
Rp. 377.000