
Mak Ikah (95 tahun) menjalani hari-harinya seorang diri. Di usia yang seharusnya diisi dengan istirahat, Mak Ikah justru masih harus berjalan masuk ke hutan setiap pagi. Dengan tubuh yang renta dan langkah yang kian melemah, ia memikul keranjang rotan tua untuk mencari kayu bakar satu-satunya cara agar ia bisa makan hari itu.

Mak Ikah hidup tanpa suami, tanpa anak, dan tanpa penghasilan tetap. Dari kayu bakar yang ia kumpulkan, Mak Ikah hanya mendapatkan Rp15.000–Rp20.000 sehari, itu pun jika cuaca cerah. Saat hujan, kayu basah tak laku dijual. Tak jarang Mak Ikah pulang dengan tangan kosong, tubuh menggigil, dan perut yang belum terisi.
Di rumah sederhananya, Mak Ikah memasak dengan tungku tua karena tak memiliki kompor gas. Setiap hari adalah perjuangan untuk sekadar bertahan. Namun di balik lelahnya, Mak Ikah menyimpan harapan kecil: memiliki warung sederhana di depan rumah agar ia tak perlu lagi masuk hutan dan mengangkat beban berat di usia senja.

Hari ini, kita bisa membantu mewujudkan harapan Mak Ikah. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari dan modal usaha kecil agar Mak Ikah bisa hidup lebih layak. Uluran tangan Anda bisa membuat langkah Mak Ikah lebih ringan dan hari tuanya lebih tenang.