Rasty baru berusia 7 tahun. Di usia yang seharusnya diisi dengan tawa dan perlindungan orang tua, Rasty justru harus belajar bertahan hidup sendirian. Ia adalah anak yatim yang kehilangan ayah dan ibu terlalu cepat. Tidak ada pelukan saat lelah, tidak ada tempat mengadu saat lapar. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri dan keinginan kuat untuk terus hidup.

Rasty tinggal di sebuah kontrakan kecil yang jauh dari kata layak. Dinding tipis, lantai dingin, dan ruangan sempit menjadi saksi kesunyiannya setiap malam. Ia tidur seorang diri, sering kali memeluk tas sekolahnya seolah itu pengganti pelukan orang tua. Makan bukanlah hal yang pasti setiap hari. Kadang ia hanya mampu membeli mie instan, kadang harus menahan lapar hingga ada tetangga yang berbaik hati memberinya makanan.

Sepulang sekolah, Rasty tidak bermain seperti anak-anak lain. Ia berjalan menyusuri gang-gang sempit sambil menjajakan roti titipan warung. Dengan suara kecil dan langkah lelah, ia berusaha mengumpulkan uang sekadar untuk makan hari itu. Jika mendapatkan Rp10.000 saja, Rasty sudah sangat bersyukur. Uang sekecil itu menjadi penentu apakah ia bisa makan atau harus tidur dalam keadaan lapar.

Di balik tubuh kecilnya, Rasty menyimpan harapan sederhana. Ia ingin memiliki perlengkapan sekolah yang layak agar bisa belajar dengan nyaman. Ia ingin bisa makan tanpa rasa takut besok tidak ada apa-apa. Dan yang paling ia butuhkan hari ini adalah uluran tangan kita—agar Rasty tidak terus sendirian menghadapi hidup yang terlalu berat untuk anak seusianya.